kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • EMAS593.896 0,51%

Akankah Tiga Pilar (AISA) kembali gagal membayar bunga utang jatuh tempo?

Rabu, 18 Juli 2018 / 06:30 WIB

Akankah Tiga Pilar (AISA) kembali gagal membayar bunga utang jatuh tempo?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ancaman pailit, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) kembali menghadapi jatuh tempo pembayaran bunga utang. Kamis besok (19/7), Tiga Pilar harus membayar bunga utang yang jatuh tempo senilai Rp 63,3 miliar.

Bunga utang tersebut merupakan pembayaran ke-7 fee ijarah atas Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016. Terbit pada 11 Juli 2016 lalu, Sukuk Ijarah TPS Food II/2016 senilai Rp 1,2 triliun itu menawarkan fee ijarah sebesar 10,55%.


Bukan tidak mungkin, Tiga Pilar akan kembali gagal membayar bunga utang tepat waktu seperti halnya pembayaran bunga utang yang jatuh tempo pada 5 Juli lalu senilai Rp 46,12 miliar. Bunga utang tersebut berasal dari bunga atas Obligasi TPS Food I/2013 senilai Rp 30,75 miliar dan fee ijarah atas Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 senilai Rp 15,37 miliar.

Pada saat itu, Direktur Utama Tiga Pilar Stefanus Joko Mogoginta mengatakan, AISA belum dapat menyetorkan dana ke rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk pembayaran bunga bligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada 5 Juli 2018. "Perseroan tengah mengupayakan proses restrukturisasi Obligasi dan Sukuk Ijaarah TPS Food I Tahun 2013 tersebut dan kami akan menginformasikan kembali mengenai proses tersebut," ujar Joko dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Juli 2018.

Kegagalan Tiga Pilar membayar bunga utang tepat waktu, seperti kita tahu, berbuntut panjang. Dua kreditur Tiga Pilar, PT Sinarmas Aset Management dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG, pada 6 Juli lalu telah mendaftarkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Permohonan PKPU ini terdaftar dengan nomor perkara 92/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst.

Sinarmas Asset Management memegang Obligasi TPS Food I/2013 senilai Rp 21,147 miliar dan Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 senilai Rp 296 miliar. Sementara Asuransi Jiwa Sinarmas memiliki Obligasi TPS Food I/2013 senilai Rp 100 miliar dan Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 senilai Rp 200 miliar.

Dalam keterbukaan informasi di BEI, Sekretaris Tiga Pilar Riky Tjie mengatakan, Tiga Pilar sedang melakukan konsolidasi untuk mengambil langkah yang dianggap perlu dalam menghadapi permohonan PKPU.

Terkait dengan kewajiban pembayaran bunga  Obligasi TPS Food I/2013 dan Sukuk Ijarah TPS Food I/2013, Ricky menambahkan, Tiga Pilar sedang mengupayakan proses restrukturisasi atas instumen utang tersebut.

Salah satu upaya restrukturisasi adalah dengan kembali mengumpulkan para pemegang obligasi dan sukuk ijarah. Tiga Pilar kembali  akan menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah (RUPSI) pada 10 Agustus mendatang.

Ini merupakan kali kedua Tiga Pilar menggelar RUPO dan RUPSI di tahun ini. Pada Maret lalu, Tiga Pilar telah menggelar RUPO dan RUPSI untuk mengusulkan  perubahan perjanjian perwaliamanatan, khususnya terkait jadwal jatuh tempo pokok utang.

Per April 2018, Tiga Pilar seharusnya membayar pokok utang dua surat utang yang jatuh tempo. Keduanya adalah Obligasi  TPS Food I Tahun 2013 senilai Rp 600 miliar dan  Sukuk Ijarah TPS Food I Tahun 2013 senilai Rp 300 miliar. Kedua surat utang tersebut jatuh tempo pada 5 April 2018.

RUPO yang digelar 22 Maret lalu akhirnya menyetujui perpanjangan waktu jatuh tempo Obligasi  TPS Food I /2013 selama 12 bulan ke depan menjadi 5 April 2019. RUPSI yang digelar di hari yang sama juga merestui perpanjangan waktu jatuh tempo Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 selama 12 bulan ke depan menjadi 5 April 2019.

RUPO dan RUPSI juga menyetujui perubahan pembayaran bunga. Pembayaran bunga yang semula dilakukan setiap tiga bulan sekali berubah menjadi setiap enam bulan sekali. Selain itu, RUPO dan RUPSI juga menyetujui perubahan pasal perjanjian perwaliamanatan terkait penggantian jaminan utang oleh Tiga Pilar. Ini sekaligus merupakan restu bagi Tiga Pilar untuk menggelar divestasi bisnis beras.

Toh, Tiga Pilar hingga saat ini belum berhasil merealisasikan divestasi bisnis beras. Tiga Pilar juga tidak memanfaatkan dengan baik restrukturisasi utang yang dihasilkan RUPO dan RUPSI pada Maret lalu. Setelah memperoleh restu untuk memperpanjang waktu jatuh tempo utang dan perubahan jadwal pembayaran bunga utang, Tiga Pilar tetap saja tidak sanggup membayar bunga utang yang jatuh tempo pada 5 Juli lalu.

Memang, jika melihat neraca keuangan, Tiga Pilar tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membayar bunga utang. Per 26 Juni 2018, posisi kas perusahaan hanya sebesar Rp 48 miliar.

Namun, posisi kas perusahaan tentu tidak bisa serta merta menjadi alasan untuk tidak membayar bunga utang yang jatuh tempo. Sebab, Tiga Pilar sejatinya memiliki alternatif pendanaan yang berasal dari piutang.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2017 yang baru dirilis pada akhir Juni lalu, Tiga Pilar memiliki piutang usaha sebesar Rp 2,1 triliun. Tiga Pilar juga masih memiliki piutang pada PT JOM Prawarsa Indonesia senilai Rp 588,24 miliar per Desember 2017.

Piutang tersebut berasal dari transaksi pembelian GOLL pada 2016 lalu oleh JOM Prawarsa senilai Rp 521,4 miliar. Berdasarkan perjanjian, pembayaran transaksi pengambilalihan GOLL semestinya paling lambat 30 September 2016.

Namun, hingga akhir tahun lalu, JOM belum membayar sepeser pun atas transaksi pembelian GOLL. Sehingga, sesuai perjanjian, JOM dikenakan denda sebesar 10,25% per tahun. Pada 2017, pendapatan denda dari keterlambatan pembayaran tersebut mencapai Rp 53,45 miliar.

JOM Prawarsa merupakan perusahaan yang masih terafiliasi dengan Tiga Pilar. Sebab, baik JOM maupun Tiga Pilar dikendalikan oleh pihak yang sama, yakni Stefanus Joko Mogoginta. Joko adalah Direktur Utama Tiga Pilar dan pemegang saham Tiga Pilar Corpora, pemegang saham pengendali Tiga Pilar. Di JOM, Joko merupakan pemegang saham dengan kepemilikan saham sebesar 80%.

Selain tak juga melakukan penagihan pada JOM Prawarsa untuk membayar utang dan bunga utang jatuh tempo, Tiga Pilar justru menggelar transaksi dengan JOM Prawarsa yang cukup aneh dan membingungkan .

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2017, pada 4 Desember 2017, Tiga Pilar telah menggelontorkan uang muka investasi senilai Rp 200 miliar. Uang muka tersebut merupakan uang muka atas rencana akuisisi 99.99% kepemilikan pada PT Jaya Mas dari JOM Prawarsa.

Berdasarkan penelusuran KONTAN, Jaya Mas adalah perusahaan beras yang berlokasi di Karanganyar, Jawa Tengah. Jaya Mas disebut-sebut merupakan salah satu mitra pengadaan Bulog.

Pembayaran uang muka akuisisi ini tentu cukup aneh. Sebab, transaksi tersebut dilakukan di saat Tiga Pilar membutuhkan dana untuk persiapan membayar utang yang sedianya jatuh tempo pada April 2018.

Selain itu, rencana akuisisi Jaya Mas juga dilakukan di saat manajemen Tiga Pilar memutuskan menghentikan bisnis beras pasca kasus hukum yang menimpa PT Indo Beras Unggul (IBU), cucu usaha Tiga Pilar, pada pertengahan tahun 2017.


Reporter: Herry Prasetyo
Editor: Herry Prasetyo

OBLIGASI

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0209 || diagnostic_api_kanan = 0.0751 || diagnostic_web = 1.2969

Close [X]
×