| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.368
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS609.032 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

S&P menempatkan peringkat PGN di kategori creditwatch dengan implikasi negatif

Kamis, 05 Juli 2018 / 06:25 WIB

S&P menempatkan peringkat PGN di kategori creditwatch dengan implikasi negatif
Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat utang Standard and Poor's (S&P) menempatkan peringkat utang PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di kategori creditwatch dengan implikasi negatif. Penempatan peringkat tersebut seiring langkah emiten dengan kode saham PGAS tersebut mengakuisisi anak usaha PT Pertamina, PT Pertamina Gas (Pertagas).

Mengutip siaran pers yang diterbitkan S&P, Rabu (4/7), S&P menempatkan peringkat BBB- atas utang jangka panjang PGN di kategori creditwatch dengan implikasi negatif. S&P juga menempatkan peringkat BBB- untuk utang PGN berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) di kategori creditwatch dengan implikasi negatif.

Pada saat yang sama, S&P juga menempatkan peringkat BB+ atas utang jangka panjang PT Saka Energi Indonesia, anak usaha PGN, di kategori creditwatch dengan implikasi negatif. Begitu pula, peringkat utang BB+ atas utang berdenominasi dollar AS milik Saka Energi ditempatkan di kategori creditwatch dengan implikasi negatif.

Penempatan peringkat PGN di kategori creditwatch lantaran S&P memperkirakan akuisisi Pertagas akan meningkatkan utang PGN secara substansial dan berpotensi memperlemah kelayakan kredit jika transaksi akuisisi tersebut didanani menggunakan utang dan kas.

Jika dana berasal dari  utang dan kas, Analis S&P Mary Anne Low dan Vishal Kulkarni mengatakan, akuisisi Pertagas akan menjadi sinyal bahwa manajemen PGN mendukung kebijakan finansial yang lebih agresif dibandingkan yang telah S&P antisipasi sebelumnya.

S&P memperkirakan, neraca PGN secara substansial akan melemah setelah akuisisi. Proyeksi S&P, rasio dana dari operasional alias fund from operations (FFO) terhadap utang akan jatuh di bawah 20% secara berkelanjutan. Level tersebut berada di bawah ambang batas bawah S&P untuk PGN di level 23%. Rasio tersebut juga secara substansial lebih lemah dibandingkan rasio historis selama ini, khususnya sebelum 2015 saat rasio FFO terhadap utang mencapai 60%.

Seperti diberitakan sebelumnya, PGN akan mengakuisis 51% saham Pertagas senlai Rp 16,6 triliun yang dilakukan secara tunai.  PGN berencana menggunakan kas internal dan utang untuk membiayai transaksi tersebut.

Konsolidasi bisnis PGN dan Pertagas merupakan bagian dari pembentukan Holding BUMN Migas. Tujuannya, untuk menciptakan entitas milik negara yang lebih besar dan kuat di sektor minyak dan gas (migas) demi terwujudnya sinergi dan menghindari duplikasi infrastruktur yang mahal.

S&P memperkirakan, ukuran dan cakupan PGN akan sedikit menguat saat akuisisi Pertagas rampung. Entitas gabungan tersebut akan mengendalikan hampir 96% infrastruktur gas nasional infrastruktur. Akuisis Pertagas akan membuat PGN memiliki aset operasional yang lebih luas dan diversifikasi pelanggan yang lebih besar. PGN mengharapkan potensi sinergi sebesar US $ 65 juta per tahun.

Meski begitu, S&P belum memperhitungkan sinergi tersebut ke dalam proyeksi. S&P meyakini, pos neraca perusahaan akan lebih lemah. Permintaan gas yang lemah, terutama dari pelanggan industri, dan selisih harga jual dan biaya perolehan gas (spread) yang terkompresi akan membatasi kemampuan PGN untuk memperkuat arus kas operasional organik hingga setidaknya pada 2019.

S&P telah telah merevisi asumsi dasar dari rata-rata selisih harga kotor untuk perusahaan distribusi gas menjadi sekitar US$ 2,40 per unit, dari US$ 2,50-US$ 2,75 per unit. Selisih harga jual dengan biaya perolehan ini telah menurun selama beberapa tahun terakhir. S&P juga berasumsi bahwa PGN akan terus berinvestasi selama periode tersebut.

Sebagai hasilnya, S&P memperkirakan, arus kas diskresioner pada 2019 akan menjadi minus US$ 160 juta-US$ 210 juta. Pengurangan utang, menurut S&P, sepertinya tidak memungkinkan selama periode tersebut, khususnya jika akuisisi Pertagas dibiayai menggunakan utang. Meski begitu, pendanaan ekuitas dan pinjaman dari pemegang saham di struktur modal bisa membantu memitigasi peningkatan beban utang.

S&P berharap bisa menyelesaikan peringkat creditwatch PGN dalam waktu 30-90 hari ke depan saat akuisisi Pertagas mencapai penyelesaian pembayaran dan saat S&P telah memiliki kejelasan mengenai struktur permodalan dan teloreansi utang.

Untuk menyelesaikan peringkat creditwatch, S&P akan menilai toleransi keuangan PGN dalam jangka panjang, khususnya terkait pendanaan akuisisi, serta komitmen dan kemampuan perusahaan untuk menurunkan utang dan mempertahankan peringkat layak investasi.

S&P bisa menurunkan peringkat PGN jika akuisisi Pertagas didanai menggunakan kas dan utang. Sebaliknya, S&P bisa menegaskan peringkat utang jika PGN tidak memproses akuisisi Pertagas. Peringkat utang juga bisa dipertegas jika PGN mendanai akuisisi Pertagas dengan tetap mempertahankan rasio FFO terhadap utang di atas 23% secara berkelanjutan dan berkomitmen memperkuat neraca keuangan selama 18 bulan ke depan.


Reporter: Herry Prasetyo
Editor: Herry Prasetyo

PERINGKAT UTANG

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0404 || diagnostic_web = 0.2515

Close [X]
×