| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.368
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS609.032 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Star Energy Geothermal Wayang Windu menerbitkan green bond US$ 580 juta

Rabu, 18 April 2018 / 21:14 WIB

Star Energy Geothermal Wayang Windu menerbitkan green bond US$ 580 juta
ILUSTRASI. Pekerja Melakukan Pemeriksaan Pipa Separator

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Operator pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu, Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd (SEGWW), baru saja merampungkan penawaran surat utang berwawasan lingkungan alias obligasi hijau atawa green bond senilai US$ 580 juta. Anak usaha Star Energy Group Holdings Pte Ltd  itu mematok kupon sebesar 6,75%.

Obligasi tersebut akan terbit per 24 April mendatang. Dengan tenor 15 tahun, surat utang tersebut akan jatuh tempo pada 24 April 2033. Pembayaran kupon pertama kali dijadwalkan pada 24 Oktober 2018.

Bertindak sebagai joint lead manager dalam penerbitan ini adalah Barclays Capital dan DBS Bank Ltd/London, Deutsche Bank Securities Inc, dan Maybank Kim Eng Securities Pte Ltd. Barclays Capital dan Deutsche Bank Securities Inc  juga bertindak sebagai global coordinator.

Lembaga pemeringkat Moody's mengganjar surat utang  hijau ini dengan peringkat Ba3. Sementara Fitch memberikan peringkat BB-.

Rudy Suparman, Presiden Direktur Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd, mengatakan, Wayang Windu telah menutup masa penawaran surat utang pada Selasa (17/4) kemarin. Selama masa penawaran, minat investor cukup bagus sehingga penawaran diserap sepenuhnya oleh investor alias fully subscribed."Hari ini masih ada  investor yang menanyakan untuk mendapatkan alokasi, namun kami sudah tutup sejak kemarin," kata Rudy.

Star Energy menawarkan surat utang tersebut dengan menggelar roadshow ke beberapa negara, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan kembali lagi ke Amerika Serikat. Lebih dari separuh dari penawaran obligasi diserap oleh investor dari Amerika Serikat dan London.

Cuma, pada masa penawaran, pasar obligasi tengah mencatatkan kenaikan imbal hasil. Makanya, meski minat tinggi, investor juga meminta imbal hasil lebih tinggi. Dengan kondisi pasar seperti itu, SEGWW akhirnya menawarkan kupon 6,75%. "Jika waktunya terlambat, penerbitan akan lebih sulit karena imbal hasil pasti sudah naik," ujar Rudy.

Dana hasil penerbitan surat utang ini ditujukan untuk membiayai kembali utang alias refinancing. Pada 2013 lalu, SEGWW menerbitkan obligasi senilai US$ 350 juta yang akan jatuh tempo pada 2020. Tahun lalu, SEGWW mempercepat pelunasan surat utang tersebut melalui refinancing yang bersumber dari pinjaman perbankan.

SEGWWL memperoleh pinjaman senilai US$ 660 juta dari sindikasi perbankan yang dipimpin oleh Bank DBS. Pinjaman bank tersebut memiliki jangka waktu lima tahun dan bisa diperpanjang hingga lima tahun.

Refinancing melalui pinjaman perbankan ini merupakan strategi Star Energy lantaran membutuhkan dana cepat untuk mengakuisisi dua aset panas bumi milik Chevron, yakni lapangan panas bumi Salak dan lapangan panas bumi Darajat. Pada Maret 2017 lalu, Star Energy telah merampungkan akuisisi senilai US$ 2,3 miliar tersebut melalui konsorsium bersama  AC Energy (lengan bisnis Grup Ayala di Filipina di sektor energi) dan produsen listrik asal Thailand Electricity Generating PCL (EGCO).

Nah, sisa pinjaman perbankan inilah yang akan dipercepat pelunasannya menggunakan dana hasil penerbitan green bond. Tujuannya, agar pengelolaan pembiayaan lebih stabil dan lebih pasti. Dengan utang berjangka waktu 15 tahun, perusahaan bisa lebih terukur untuk merancang ekspansi.

Selain itu, surat utang memberikan kupon tetap sementara pinjaman perbankan yang SEGWW peroleh menggunakan suku bunga mengambang. Dengan bunga tetap, Rudy bilang, pengelolaan pembiayaan bisa lebih pasti dan lebih terukur.

SEGWW  tercatat sebagai perusahaan kedua di Indonesia yang menerbitkan obligasi hijau setelah Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF). Salah satu alasan Star Energy memilih menerbitkan obligasi hijau, menurut Rudy, adalah untuk memperlihatkan kepada dunia luar bahwa perusahaan di Indonesia mengikuti dan patuh terhadap standar internasional di bidang lingkungan.

Memang, penerbitan green bond tidak banyak berpengaruh terhadap kupon obligasi. Sebab, kupon lebih dipengaruhi oleh pasar. Meski begitu, investor memberikan penghargaan lebih terhadap penerbitan obligasi hijau. Makanya, SEGWW bisa memperoleh jangka waktu utang lebih panjang hingga 15 tahun.

SEGWW saat ini mengoperasikan PLTP Wayang Windu yang berlokasi di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. PLTP Wayang Windu mengoperasikan dua unit generator turbin panas bumi. Unit pertama beroperasi secara komersial pada tahun 2000 dengan kapasitas 110 megawatt (MW). Unit kedua, dengan kapasitas 117 MW, beroperasi secara komersial pada 2009. Sesuai perjanjian penjualan energi, PLTP Wayang Windu akan memasok listrik kepada PLN hingga 400 MW.

Tahun ini, Star Energy bakal lebih fokus mengembangkan lapangan panas bumi Salak yang telah diakuisisi dari Chevron pada 2017 lalu. Sementara pengembangan lapangan panas bumi Wayang Windu dijadwalkan tahun depan. Pada 2019, Star Energy berencana menggelar program pengeboran di Wayang Windu dalam rangka mencari tambahan cadangan panas bumi untuk ekspansi PLTP.

Star Energy mengakuisisi lapangan migas Wayang Windu pada 2004 silam dengan mengambil alih Magma Nusantara Limited dari Credit Suisse, Deutsche Bank, dan anak usaha Unocal Corp., Unocal Global Ventures Limited. Magma Nusantara, sebelumnya bernama Mandala Nusantara Limited, pada bersalin nama menjadi SEGWW pada 2012.

Grup Star Energy merupakan pemegang saham SEGWW dengan kepemilikan sebesar 60%. Sementara 40% sisanya dimiliki oleh Electricity Generating PCL (EGCO) dan Mitsubishi Corporation dengan kepemilikan saham masing-masing 20%.

Pemegang saham Grup Star Energy adalah taipan Prajogo Pangestu dengan kepemilikan saham sebesar 66,7%. Sementara 33,3% sisanya dimiliki oleh BCPG Public Company.

Saat ini, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), perusahaan yang dikuasi Prajogo dengan kepemilikan saham sebesar 71,19%, tengah memproses akuisisi Star Energy senilai US$ 755 juta. Barito akan mengambil alih kepemilikan saham Prajogo di Star Energy melalui transaksi inbreng. Barito akan menggelar rights issue sementara Prajogo sebagai pemegang saham utama BRPT akan mengesekusi rights issue dalam bentuk 66,68% saham Star Energy.

 

 

 

 

 

 


Reporter: Herry Prasetyo
Editor: Herry Prasetyo

OBLIGASI

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0430 || diagnostic_web = 0.2250

Close [X]
×