kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.450
  • EMAS665.000 -0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Di balik lonjakan harga saham pendatang baru

Senin, 03 September 2018 / 23:43 WIB

Di balik lonjakan harga saham pendatang baru
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia

KONTAN.CO.ID - Para pendatang baru di bursa saham Indonesia membuat mata banyak pelaku pasar terpaku. Betapa tidak, dalam waktu singkat, banyak pendatang baru yang harga sahamnya bisa melonjak hingga ratusan persen.

Tahun ini, dengan durasi dan kecepatan berbeda, sederet pendatang baru mencetak kenaikan harga luar biasa. Sebut saja saham PT Andira Agro Tbk (ANDI) yang hanya dalam tempo dua minggu sejak melantai, harga sahamnya sudah terbang 317,5%. Atau saham PT MD Pictures Tbk (FILM) yang harus disuspensi perdagangan sahamnya hingga dua kali, saat umurnya di bursa baru setengah bulan. Maklum, harga saham FILM melambung 635,7% dari Rp 210 per saham menjadi Rp 1.545 per saham.

Pergerakan harga ini tidak selalu sejalan dengan kinerja keuangannya. Beberapa emiten dengan kinerja negatif justru menunjukkan kenaikan harga yang signifikan. Atau, saham yang secara fundamental bagus, pergerakan harganya malah lebih anteng.

Kepala riset Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan menunjuk beberapa pendatang baru yang punya fundamental bagus. Misalnya, PT Bank BRI Syariah (BRIS) dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC). Tetapi pergerakan saham mereka justru tidak berbanding lurus dengan kinerjanya.

Walhasil, muncul tudingan jika sebagian saham pendatang baru tahun ini harganya naik lantaran digoreng. Apalagi, di saat bersamaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyelidiki 21 saham yang terindikasi sebagai saham gorengan. Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal IIB OJK, Djustini Septiana menyebut, jumlahnya masih bisa berubah seiring berjalannya proses penyelidikan.

Banyak penyebab
Lantas, adakah di antara saham-saham pendatang baru yang harganya melambung lantaran digoreng? Entahlah, sebab OJK masih menutup rapat-rapat nama emiten yang mereka selidiki.

Yang jelas, menyematkan predikat saham gorengan bagi saham anyar bukan perkara mudah. Ambil contoh Raja Sumbayak, analis Phillip Sekuritas Indonesia yang mengaku, sulit untuk menyebut kenaikan harga FILM wajar atau tidak. Pasalnya, sejak awal, valuasi harga perdana FILM memang tidak memiliki pembanding di Indonesia.

Di BEI, tidak ada emiten yang punya bisnis serupa yang dilakoni MD Pictures. Mencari perbandingan dengan emiten serupa di bursa luar negeri, juga tidak bisa memberikan gambaran persis secara apple to apple. “Yang jelas secara fundamental FILM memang bagus. Bisnisnya terdiversifikasi ke berbagai lini, tidak cuma produksi film layar lebar,” ujar Raja.

Di luar itu, Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas menyebut, banyak faktor yang menyebabkan saham pendatang baru melejit dalam tempo relatif singkat. Misalnya, bisa saja sejak awal valuasi harga perdananya memang terlalu murah.

Walhasil, saat hari pertama perdagangan, harganya langsung menyentuh batas atas auto rejection. “Selama enam bulan belum bisa dikatakan gorengan. Manajemen emiten itu butuh waktu merealisasikan janji-janjinya. Kalau naiknya kenceng sekali tapi ternyata kinerjanya kurang, pasti market akan menghukum,” kata Edwin.

Namun, Alfred punya pandangan berbeda. Kenaikan atau penurunan saham secara signifikan dalam waktu singkat masuk dalam unusual market activity.

Untuk itu, investor memang harus hati-hati. Apalagi tidak semua saham dengan pergerakan harga yang mencurigakan masuk dalam radar pengawasan otoritas bursa.

Ambil contoh saham PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS). Pada hari pertama melantai di BEI, saham BOSS melesat naik hingga 50%. Pada penutupan Rabu (29/8) harga saham BOSS bertengger di level Rp 2.590 per saham atau enam kali dari harga penawaran IPO. 

Nah, pemegang saham mayoritas, menurut Alfred pasti akan kecewa ketika harga saham yang ditawarkan terlalu murah. Seperti saat IPO PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Kala itu, pemegang saham mayoritas yakni pemerintah langsung melakukan penyelidikan setelah melihat ada kenaikan tidak wajar pada saham IPO KRAS. “Ketika pemegang saham mayoritas tidak komplain pada kenaikan harga tinggi, ini menjadi tanda tanya besar,” lanjut Alfred.

Lalu, emiten yang melepas saham dalam porsi yang kecil juga memang berpotensi harganya bakal melejit. Sebab, memang akan lebih mudah menggerakan harganya ketimbang emiten yang saham beredarnya hingga miliaran unit.

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) misalnya, memiliki saham beredar di publik sebanyak 8,699 miliar. Ini setara dengan 33% dari saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Tengok saja, meski punya fundamental yang bagus, saham ini sulit merangkak naik. Bahkan, harganya saat ini berada di bawah harga perdana kala IPO.

Nah, melepas saham dalam jumlah yang sedikit ke publik bisa jadi bagian dari strategi pemilik mayoritas saham perusahaan. Dalam beberapa kasus, lanjut Edwin, sebetulnya sudah ada mitra strategis yang sejak awal memang ingin masuk ke saham tersebut. Nah, ketika harganya sudah melambung, barulah mitra strategis itu masuk lewat skema private placement. “Jadi mereka bisa menjual di harga yang tinggi dengan jumlah saham yang dilepas lebih sedikit,” tukasnya.

Kondisi seperti ini, imbuh Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Asset Management, kadang terjadi saat ada investor institusi asing yang hendak masuk. “Hedge fund asing itu juga terikat aturan. Ada yang tidak bisa membeli perusahaan yang belum IPO. Jadi setelah IPO baru mereka masuk ke perusahaan tersebut,” ujar Kiswoyo.

Lalu, masuknya investor strategis atau investor institusi dalam porsi yang besar lewat skema IPO juga bisa mendorong kenaikan harga saham pendatang baru. Terutama jika saham beredar di publik menjadi lebih sedikit. Kiswoyo menyebutnya sebagai konsekuensi hukum permintaan dan penawaran.

Pendorong berikutnya bisa datang dari rencana penggunaan dana IPO. Saham emiten yang menggunakan dana investor untuk mengembangkan usaha lebih berpotensi naik, ketimbang yang mengalokasikannya untuk bayar utang.

Sengaja dimainkan

Di luar itu, ada juga saham anyar yang boleh jadi kenaikan harganya akibat aksi goreng. Aditya Perdana Putra, analis Semesta Indovest menduga salah satunya adalah saham PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS). Menurutnya, dalam lima tahun terakhir kinerja INPS kurang bagus dengan pendapatan yang terus turun.

Selain itu, perusahaan belum melaporkan kinerja dari kuartal I 2018. “Sepertinya kenaikan saham INPS karena memang ada pemain yang berusaha menaikkan sahamnya. Ya, memang digoreng,” ujarnya.

Jika menggunakan kinerja 2017, analisanya juga tidak lebih baik. Sebab posisi debt to equity ratio (DER) mencapai 2,6 kali. Dus, meski arus kas operasional positif, tetapi jumlah utang tinggi membuat arus kas bersih turun.

Meski penuh tantangan, peluang tetap terbuka bagi investor dan trader ritel yang meminati saham IPO. Edwin menekankan pentingnya  mencermati prospektus IPO. Selain itu, investor kudu proaktif meminta laporan IPO yang lazim disusun sekuritas tempat ia membuka akun.

Selain berpatokan pada fundamental, Asep Muhammad Saepul Islam menyebut trader wajib menerapkan prinsip money management. Lantaran cukup berisiko, investor saham itu menyarankan alokasi dana yang lebih kecil, misalnya 5% dari total dana investasi.

Cara lain untuk menekan risiko adalah disiplin menerapkan trailing stop. Maklum, selain pergerakan harga yang fluktuatif, secara teknikal saham anyar sebetulnya tak punya level support dan resistance

Walhasil, pergerakannya sulit ditakar lantaran bisa bergerak ke mana saja. “Jangan memprediksi tapi bereaksi saja. Jadi ketika berbalik arah, kita tidak  malah jadi investor dadakan,” saran Asep.


Reporter: Tedy Gumilar, Wuwun Nafsiah
Editor: Bagus Marsudi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0581 || diagnostic_web = 0.3400

Close [X]
×