Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.455
  • EMAS663.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Dua perusahaan berebut pengelolaan blok penghasil gas terbesar ketiga di Indonesia

Selasa, 04 September 2018 / 05:30 WIB

Dua perusahaan berebut pengelolaan blok penghasil gas terbesar ketiga di Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kontrak pengelolaan Blok Corridor akan habis pada 19 Desember 2023 mendatang. Hingga saat ini, setidaknya ada dua perusahaan minyak dan gas (migas) yang akan memperebutkan pengelolaan blok gas yang berada di Sumatra Selatan itu.

Blok Corridor tercatat sebagai produsen gas ketiga terbesar di Indonesia. Sepanjang semester I-2018, produksi gas Lapangan Grissik Blok Corridor mencapai 841 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Hingga akhir tahun, produksi gas Blok Corridor diproyeksikan mencapai 798 mmscfd. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, produksi gas Blok Corridor ditargetkan sebesar 810 mmscfd.

Saat ini, Blok Corridor dikelola oleh ConocoPhillips (Grissik) Ltd (COPI). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan, ConocoPhillips telah mengajukan surat minat untuk memperpanjang kontrak Blok Corridor.

Namun, hingga awal pekan ini, ConocoPhillips belum mengirimkan proposal perpanjangan kontrak pengelolaan Blok Corridor. Pemerintah berharap, ConocoPhillips segera mengajukan proposal perpanjangan kontrak.

Jika ConocoPhillips tidak menyerahkan proposal perpanjangan kontrak Blok Corridor pada bulan ini, tidak menutup kemungkinan Pemerintah akan memberikan hak pengelolaan Blok Corridor kepada Pertamina.

Pertamina telah menyatakan minat untuk mengelola Blok Corridor.  Perusahaan migas pelat merah itu juga telah memperoleh izin untuk membuka data Blok Corridor pada awal Agustus lalu.

Berkaca dari proposal Pertamina untuk Blok Rokan yang lebih baik dibandingkan tawaran Chevron Pacific Indonesia, Djoko meyakini, Pertamina akan memberikan penawaran yang baik untuk Blok Corridor.

Meski begitu, harus diakui, kinerja Pertamina dalam mengelola blok terminasi belum bagus. Ini berkaca dari pengelolaan Blok Mahakam. Per Agustus 2018, produksi gas Blok Mahakam justru turun 31% menjadi 957 mmscfd.

Toh, Pertamina masih akan tetap memperoleh kepercayaan dari Pemerintah untuk mengelola blok migas yang besar. Djoko optimistis, Pertamina bisa menaikkan produksi blok migas terminasi yang dikelolanya.


Reporter: Febrina Ratna Iskana
Editor: Herry Prasetyo
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0559 || diagnostic_web = 0.3871

Close [X]
×