kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Ini strategi pelaku industri minuman di tengah pasar yang sulit


Rabu, 05 September 2018 / 08:35 WIB

Ini strategi pelaku industri minuman di tengah pasar yang sulit


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri minuman terus mengatur siasat agar bisa bertahan dan menguasai pasar. Selain efisiensi, pebisnis pun siap menambah portofolio produk.

Akhir pekan lalu, misalnya, The Coca Cola Company mengumumkan akan membeli jaringan kedai kopi asal Inggris, Costa. Nilainya mencapai US$ 5,1 miliar. Costa merupakan pesaing terbesar Starbucks dan telah memiliki 4.000 gerai yang tersebar di 32 negara.

Ketika dihubungi KONTAN, Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo belum bisa bercerita banyak mengenai hal tersebut. Dia bilang, belum ada informasi resmi dampak tersebut bagi Coca Cola di Indonesia.

Triyono yang juga Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) berharap volume penjualan industri pada tahun ini positif setelah tahun lalu minus 1% atau hanya 34 miliar liter. "Pada kuartal II naik 3%. Kami mengharapkan pertumbuhan 3% sampai akhir tahun ini," ujar dia.

Sebesar 70% bisnis minuman masih dikuasai pengusaha Air Minuman Dalam Kemasan (AMDK). Kemudian urutan kedua minuman teh. Lalu diikuti minuman buah, karbonasi, kopi, susu, dan energi.

Ia bilang momentum akhir tahun menjadi kesempatan terakhir yang bisa diharapkan untuk mendongkrak penjualan di tahun ini. Namun situasi itu menjadi tidak ideal mengingat nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS.

Hal ini mengingat bahan baku kemasan kaleng yakni aluminium masih impor. Sebagian kemasan botol polyethylene terephthalate (PET) juga masih impor.

Terkait fluktuasi nilai tukar, saat ini pelaku industri masih wait and see, setidaknya hingga Oktober. Saat ini produsen minuman melakukan efisiensi produksi untuk menekan beban (cost). "Kami belum menaikkan harga jual. Kami baru bisa mengambil langkah pada akhir tahun ini," jelas Triyono.

Harry Sanusi, President Director and Chief Executive Officer PT Kino Indonesia Tbk (KINO) optimistis penjualan akan tumbuh 12% pada tahun ini. Dari sisi bottom line, perusahaan ini memproyeksikan pertumbuhan 30%. "Proporsi pendapatan dari segmen beverages masih 30% dan kami optimistis cuaca yang masih cenderung panas mendorong permintaan," ungkap dia.

Gerry Mustika, Sales & Distribution Director PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menilai saat ini hampir 35% penjualan berasal dari produk food & beverage. "Bisnis minuman energi tahun ini tumbuh 0,4%. Itu masih baik di saat daya beli masih lemah," kata dia.


Sumber : Harian KONTAN
Editor: Herry Prasetyo

Video Pilihan


Close [X]
×