kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Lolos dari lubang jarum, Tiphone berhasil melunasi utang jatuh tempo Rp 1 triliun

Selasa, 10 Juli 2018 / 18:47 WIB

Lolos dari lubang jarum, Tiphone berhasil melunasi utang jatuh tempo Rp 1 triliun
ILUSTRASI. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE)



Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) lolos dari lubang jarum kegagalan membayar utang. Meski likuiditas perusahaan sempat melemah, emiten distributor voucer dan kartu perdana ini berhasil melunasi utang jatuh tempo senilai Rp 1 triliun.

Pada bulan ini, ada dua seri obligasi Tiphone yang jatuh tempo. Pertama, Obligasi I Tahap III Tahun 2017 Seri A senilai Rp 514,5 miliar yang jatuh tempo pada 2 Juli 2018 lalu. Kedua, Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2015 sebesar Rp 500 miliar yang jatuh tempo pada 10 Juli 2018.


Sekretaris Perusahaan Tiphone Semual Kurniawan mengatakan, Tiphone telah membayar utang jatuh tempo atas Obligasi I Tahap III Tahun 2017 pada 2 Juli lalu. Sementara utang jatuh tempo atas Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2015 telah dilunasi pada hari ini, Selasa (10/7).

Padahal, Tiphone sempat mengalami risiko likuditas akibat lemahnya arus kas. Per 31 Maret 2018, posisi kas dan setara kas Tiphone hanya sebesar Rp 784,86 miliar. Ditambah dengan fasilitas pinjaman bank yang belum digunakan sebesar Rp 100 miliar sekalipun, Tiphone saat itu tidak memiliki dana yang cukup untuk melunasi dua obligasi yang jatuh tempo.

Makanya, dua perusahaan pemeringkat efek, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan Fitch Ratings Indonesia, telah menurunkan peringkat utang Tiphone. April lalu, Pefindo menurunkan peringkat utang Tiphone dari A menjadi A-. Awal Juni lalu, Pefindo kembali menurunkan peringkat utang Tiphone menjadi BB. Di awal Juni lalu, Fitch juga menurunkan peringkat utang Tiphone dari BBB+ menjadi B+.

Baik Fitch maupun Pefindo menempatkan Tiphone ke dalam peringkat yang perlu diawasi dan berpotensi memiliki impikasi negatif. Penempatan peringkat negatif yang perlu dipantau tersebut mencerminkan risiko likuiditas lantaran Tiphone belum memiliki dana untuk memenuhi utang jatuh tempo senilai Rp 1 triliun.

Toh, Tiphone berhasil membayar utang jatuh tempo tepat waktu. Semuel mengatakan, dana pembayaran utang jatuh tempo tersebut bersumber dari kas internal.

Memang, kas perusahaan per akhir Maret lalu sebetulnya tidak mencukupi untuk membayar utang yang jatuh tempo di Juli ini. Namun, Tiphone tak tinggal diam. Semuel mengatakan, untuk menyiapkan dana pembayaran utang jatuh tempo, Tiphone menggelar berbagai langkah untuk menarik piutang. "Kami juga menjual inventory hingga sekarang sudah tiris," ujar Semuel.

Tiphone memang memiliki piutang cukup besar. Per akhir Maret 2018, Tiphone memiliki piutang usaha senilai Rp 2,71 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 674 miliar telah lewat jatuh tempo.

Selain dari penarikan piutang, Tiphone sebetulnya memiliki strategi lain untuk membayar utang jatuh tempo, yakni melalui refinancing utang. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada April lalu telah memberikan persetujuan untuk memerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun. Rencananya, Tiphone akan menerbitkan utang senilai Rp 1,2 triliun untuk tahap pertama. Dana hasil emisi obligasi itu akan digunakan untuk melunasi utang.

Toh, dengan selesainya pembayaran utang jatuh tempo, bukan berarti Tiphone membatalkan rencana penerbitan obligasi. Semuel bilang, rencana penerbitan obligasi tetap akan berjalan meski mundur. Rencananya, Tiphone akan menerbitkan obligasi di kuartal IV tahun ini. "Dananya akan digunakan untuk menambah modal kerja," ujar Semuel.

Saat ini, Tiphone merupakan salah satu pemain terbesar untuk distribusi voucer Telkomsel dan menjadi authorized dealer di seluruh wilayah Indonesia. Tiphone memiliki 200 cabang, 400 gerai  penjualan dan lebih dari 250.000 agen penjual aktif. 

Selain menjual secara langsung kepada konsumen, Tiphone menjual voucer Telkomsel melalui berbagai kanal distribusi, antara lain melalui gerai ritel seperti Indomaret dan Alfamart, perbankan, dan juga secara online melalui kerja sama dengan Gojek dan Blanja.com. 

Kerja sama dengan Telkomsel makin erat sejak PT PINS Indonesia, anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Grup Telkom, menjadi salah satu pemegang saham Tiphone. PINS kini menguasai 24% kepemilikan saham di Tiphone dan menjadi pemegang saham terbesar nomor dua setelah PT Upaya Cipta Sejahtera.


Reporter: Herry Prasetyo
Editor: Herry Prasetyo

OBLIGASI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0011 || diagnostic_api_kanan = 0.0955 || diagnostic_web = 0.9098

Close [X]
×