kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45714,31   4,95   0.70%
  • EMAS913.000 0,55%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Pelemahan kurs rupiah berpotensi menekan kinerja emiten konsumer


Rabu, 05 September 2018 / 06:30 WIB
Pelemahan kurs rupiah berpotensi menekan kinerja emiten konsumer

Reporter: Anna Maria Anggita Risang | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja saham sektor konsumer melemah sepanjang Agustus lalu. Padahal, adanya perhelatan Asian Games 2018, semestinya menjadi sentimen positif pendongkrak sektor konsumer. Indeks saham konsumer sepanjang bulan lalu mencetak kinerja minus 0,57%.

Saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) menjadi saham konsumer yang mencatatkan kinerja paling buruk di periode tersebut. Harga saham ini mencetak penurunan sebesar 13,75%. Di posisi berikutnya ada saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk dan PT Hartadinata Abadi Tbk. Harga kedua saham sektor konsumer ini terpangkas masing-masing sebesar 9,27% dan 8,9%.


Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra mengungkapkan adanya Asian Games memang mampu berkontribusi terhadap sektor konsumer. Meski begitu, efeknya tidak cukup besar jika dibandingkan dengan momen Idul Fitri. Penjualan barang konsumer biasanya meningkat di periode tersebut lantaran ditunjang adanya pembagian tunjangan hari raya (THR). Hal ini mendorong daya beli konsumen.

William Siregar, analis Paramitha Alfa Sekuritas punya pendapat berbeda. Menurut dia, pelemahan saham konsumer disebabkan oleh pelemahan rupiah. Melemahnya rupiah berimbas pada kenaikan harga sejumlah bahan baku. "Otomatis ini akan berefek ke harga akhir, yang berujung pada pelemahan daya beli," kata William, Selasa (4/9).

Hal ini terlihat dari penurunan sektor farmasi. Menurut William, harga bahan baku produk farmasi naik karena menggunakan dollar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat perusahaan farmasi harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengimpor bahan baku. Naiknya biaya bahan baku ini akhirnya membuat perusahaan farmasi menaikkan harga jual produknya ke masyarakat.

Masih negatif

Meski sektor konsumer melemah, namun Aditya menganggap pelemahan ini tergolong wajar dan tidak seburuk yang dikatakan. Pasalnya, sektor konsumer bulan lalu hanya melemah 0,57%, masih jauh dibanding lima bulan lalu, di mana sektor konsumer sempat turun dalam.

Bahkan dalam satu waktu, harga saham-saham sektor konsumer pernah terjerembab hingga 9%. "Emiten juga cukup bingung ingin menaikkan harga, namun tidak didukung dengan daya beli masyarakat, ditambah dengan adanya pelemahan rupiah. Kondisi tersebut membuat emiten bingung apakah sebaiknya melakukan ekspansi atau tidak," ujar Aditya, Selasa (4/9).

William memprediksi, hingga akhir tahun nanti pergerakan harga saham sektor konsumer masih akan negatif. Selain karena pelemahan rupiah, adanya isu kenaikan harga BBM dikhawatirkan akan menyebabkan harga barang konsumsi naik.

Untuk saat ini William masih menyematkan rekomendasi netral terhadap saham sektor konsumer. Menurut dia, di antara saham sektor konsumer, saham HMSP memiliki prospek paling menarik. Ia mematok target harga HMSP Rp 4.200 per saham.

Sementara, Aditya menilai meski sektor konsumer masih akan negatif, investor bisa mencermati saham-saham sektor ini yang masuk dalam LQ45, seperti ICBP, INDF dan UNVR.

 



TERBARU

[X]
×