Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.453
  • EMAS663.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Semakin mudah belanja sayur buah via aplikasi

Selasa, 11 September 2018 / 08:00 WIB

Semakin mudah belanja sayur buah via aplikasi

KONTAN.CO.ID -  Lonjakan harga cabai merah keriting beberapa waktu lalu tak selalu dirasakan petani. Harga di tingkat petani jauh di bawah harga di level konsumen. Problemnya adalah, petani tidak memiliki akses dalam distribusi produk hasil panennya. Alhasil, penentuan harga berada di tengkulak dan pedagang perantara.

Kondisi ini memang klasik. Bertahun-tahun terjadi, tetapi tidak ada solusi yang membuat perubahan besar. Mungkin karena posisi di level pedagang sudah terlalu kuat. Atau bisa saja petani tidak tahu harus bagaimana, dan sudah cukup puas dengan menggarap lahan dan bisa panen.

Berangkat dari kondisi ini, ada beberapa perusahaan rintisan (start up) mencari solusi untuk membantu petani. Dengan memanfaatkan teknologi, mereka berusaha memotong panjangnya jalur distribusi, sekaligus memberdayakan petani. Dengan misi ini, rintisan berbasis agribisnis ini terus berkembang dan semakin besar.

Salah satu perusahaan rintisan agribisnis adalah Regopantes. Layanan berbasis aplikasi ini mempertemukan petani dan pembeli dalam satu platform digital. Didirikan oleh Wim Prihanto, dosen bidang technopreneurship di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, soft launching aplikasi ini di tingkat petani dilakukan pada 23 September 2017 di Soropadan, Jawa Tengah. Aplikasi ini diperkenalkan ke konsumen di Jakarta pada Oktober 2017.

Wilda Romadona, Head of Regopantes, mengatakan, pada tahun 2017, harga cabai merah keriting di tingkat petani di Jawa Tengah hanya Rp 8.000 per kilogram (kg). Tetapi, di tingkat konsumen di Jakarta, harganya melambung beberapa kali lipat menjadi sekitar Rp 70.000–Rp 80.000 per kilogram.

Gelembung harga ini terjadi karena dalam rantai pasok hasil pertanian terlalu banyak lapisan yang harus dilalui untuk sampai ke konsumen akhir. “Berangkat dari hal itu, kami mencoba untuk memotong rantai pasok itu,” ujar Wilda.

Nah, Regopantes menghubungkan petani dengan konsumen akhir secara langsung dengan konsep harga yang pantas untuk kedua belah pihak. “Harga pantas itu adalah harga yang diterima oleh petani dan harga yang harus dibayarkan oleh konsumen,” kata Wilda. Misalnya, harga cabe di petani Rp 20.000, maka di konsumen harganya Rp 80.000. Nah, Rp 20.000 ditambah Rp 80.000 dihasilkan Rp 100.000, lantas dibagi dua. Harga tengahnya Rp 50.000.

Harga itu belum dikurangi biaya-biaya lain, seperti transportasi dan packaging. Untuk itu, Regopantes membuat indeks harga per lokasi.

Di Magelang misalnya, harga indeksnya 9.000. Harga indeks ini kemudian dibagi dua. Harga untuk petani dikurangi Rp 4.500 menjadi Rp 45.500, lantas harga yang harus dibayar konsumen ditambahkan Rp 4.500 menjadi Rp 54.500. Inilah harga akhir. “Jadi, petani tahu konsumen dapat harga berapa dan konsumen pun tahu, petani dapat harga berapa,” ujarnya.

Dengan formula perhitungan seperti ini, harga yang diterima petani bertambah dari Rp 20.000 menjadi Rp 45.500. Sebaliknya, harga yang dibayarkan konsumen turun dari Rp 80.000 menjadi Rp 54.500.

Wilda menjelaskan, Regopantes sudah menjual lebih dari 100 produk pertanian, terutama beras, hortikultura, dan buah-buahan. Produk pertanian ini berasal dari sejumlah daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Di Jawa, Regopantes sudah memiliki sejumlah titik kumpul untuk produk-produk yang mau dipasarkan ke konsumen di Jakarta, seperti di Yogyakarta, Batang, dan Magelang. Dari titik kumpul ini, barang dikirim ke Jakarta oleh perusahaan logistik F&F milik 8Villages. Setelah tiba di Jakarta, proses pengiriman ke rumah konsumen, pihak Regopantes bekerja sama dengan Paxel.

Selain melalui titik kumpul ini, Regopantes juga sudah bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk memasarkan produk tertentu dari daerah tertinggal, seperti alpukat mentega dari Kabupaten Pasaman Barat, alpukat dari Soe NTT, belimbing madu dari Kabupaten Grobogan, pisang raja dari Kabupaten Bondowoso, dan salak gula pasir dari Kabupaten Karangasem.

Saat ini, jumlah petani yang sudah terdaftar di Regopantes sebanyak 5.000 petani. Tetapi, yang aktif bekerja sama sekitar 70 petani. Sedangkan pengunjung platform Regopantes sudah mencapai 23.000. Tetapi, yang rutin bertrasaksi dengan platform tersebut sekitar 7.000 dalam setahun terakhir.

Wilda mengatakan, untuk menjadi member, awalnya Regopantes melakukan pendekatan ke petani dan mengedukasi mereka. Tetapi saat ini, sudah banyak petani yang menghubungi pihak Regopantes untuk mendaftarkan diri dan produknya.

Sebelum petani mengirimkan barangnya, Regopantes bersama petani terlebih dahulu melakukan ujicoba untuk menghitung berapa lama barang akan sampai. Dengan cara itu, diketahui tingkat kualitas barangnya seperti apa. Ujicoba ini penting untuk menghitung harga yang pantas, baik bagi petani maupun konsumen.

Keuntungan yang diterima petani dengan bergabung di Regopantes adalah mendapatkan harga di atas biaya produksinya. Menurut Wilda, ada tiga masalah di tingkat petani: tidak tahu harga pokok produksi (HPP),  ketika sudah tahu tidak punya daya tawar, lantas ketika sudah tahu HPP dan punya daya tawar, petani tidak memiliki manajemen keuangan yang baik atau kurangnya literasi keuangan. “Regopantes bisa membantu pertama dan kedua. Poin ketiga kami butuh bantuan dari lembaga keuangan,” ujarnya.

Sedangkan keuntungan bagi konsumen adalah harga beli produk pangan relatif lebih murah. Selain itu, juga ada transparansi. “Konsumen tahu petani pemasoknya siapa. Setiap kemasan ada QR Code, untuk mengarahkan konsumen ke website kita sehingga dia tahu petaninya siapa, lokasinya dimana, dan jenis tanahnya seperti apa,” ujarnya.

Ke depan, Regopantes ingin menggandeng lebih banyak petani di daerah-daerah terpencil untuk memasarkan produk-produknya. Untuk itu, Regopantes sedang menjajaki kerjasama dengan PT Pos Indonesia, setelah sebelumnya menggandeng Kementerian Desa, untuk pengiriman barang dari daerah-daerah terpencil dan tertinggal.


Reporter: Petrus Dabu
Editor: Bagus Marsudi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0546 || diagnostic_web = 0.3973

Close [X]
×