kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.984
  • EMAS705.000 0,14%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Yen menjadi safe haven lagi


Senin, 03 September 2018 / 07:30 WIB

Yen menjadi safe haven lagi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menambah tarif impor terhadap produk asal China senilai US$ 200 miliar kembali membuat yen laris sebagai mata uang safe haven. Apalagi, ekonomi Turki dan Argentina tengah diguncang krisis.

Alhasil, JPY berhasil mengakhiri pekan lalu dengan keunggulan atas sebagian besar mata uang utama. Jumat (31/8), pasangan mata uang EUR/JPY melemah 0,52% ke level 128,84. GBP/JPY juga terdepresiasi 0,32% menjadi 143,918. Hanya  pairing USD/JPY yang menguat tipis 0,04% ke posisi 111,03.


Pekan lalu pasar global memang terguncang oleh krisis valas yang mendera Turki dan merembet ke Argentina. Mata uang kedua negara ini kembali melemah drastis terhadap dollar AS. Selain itu, pelaku pasar menilai Trump kembali mengobarkan api perang dengan China.

Hal ini membuat pelaku pasar masuk ke yen sebagai safe haven. Namun, lantaran sentimen penopang dollar AS masih cukup kuat, the greenback masih unggul tipis atas JPY. AS antara lain ditopang data pendahuluan pertumbuhan ekonomi AS kuartal II yang mencapai 4,2%.

Di saat yang sama, Jepang merilis Core Consumer Price Index Tokyo tumbuh 0,9% secara tahunan sepanjang Agustus, melebihi ekspektasi ekonom, yaitu 0,8%. Indeks ini merupakan salah satu indikator utama sebelum indeks CPI nasional Jepang, yang menjadi acuan tingkat inflasi, dirilis. Inilah yang membuat USD hanya unggul tipis atas JPY.

Di sisi lain, poundsterling yang sempat perkasa di awal pekan ini gagal melanjutkan keunggulan. Menurut analis Monex Investindo Futures Faisyal, kini para pelaku pasar cenderung bersikap wait and see. "Ini dilakukan jelang pertemuan kepala negosiator Uni Eropa dan Menteri Brexit Inggris untuk membahas kesepakatan Brexit," kata dia.

Sementara itu, analis Astronacci International Anthonius Edyson menilai pelemahan euro kali ini terjadi karena terseret sentimen negatif dari krisis Turki. "Karena kalau mau berbicara krisis Turki, sudah mulai berkurang namun tetap sedikit memberikan pengaruh," tutur dia.

 


Reporter: Grace Olivia, Michelle Clysia Sabandar
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0528 || diagnostic_web = 0.3297

Close [X]
×